Subuh tadi, jagat sepak bola seolah diguncang gempa bermagnitudo tinggi. Laga penentuan hasil final Piala Dunia menyajikan tontonan super epik ketika barisan anak muda Spanyol sukses memaksa skuad senior Argentina ngos-ngosan sampai babak perpanjangan waktu.
Tak hanya kemenangan tipis Spanyol yang menjadi sorotan, perhatian publik juga banyak tertuju pada sebuah foto lawas yang kini dianggap sebagai “takdir sepak bola yang luar biasa”. Sebuah momen “siklus penuh” yang bikin merinding.
Jepretan hampir dua dekade lalu, tepatnya pada 2007, itu memperlihatkan Lionel Messi muda yang masih gondrong tengah memandikan seorang bayi berusia lima bulan di baskom biru dalam sesi pemotretan kalender amal UNICEF di Camp Nou. Ndilalah, bayi montok bersabun itu adalah Lamine Yamal, bintang Timnas Spanyol!
Siapa sangka, bocah yang dulu dimandikannya itu subuh tadi justru menjadi hantu yang memorakporandakan pertahanan sang maestro.
Rentetan kebetulan ini pancen bikin akal sehat lumayan ngelu. Bayangkan saja, 19 tahun lalu, Messi muda berpose dengan bayi Yamal ketika dirinya masih sering memakai jersei nomor 19 di Barcelona. Kini, Yamal yang genap berusia 19 tahun bermain di partai final Piala Dunia tepat pada 19 Juli dan juga mengenakan jersei nomor 19!
Apakah ini murni kebetulan atau takdir peradaban yang sedang terungkap? Atau, jangan-jangan programmer simulasi kehidupan ini lagi malas mengacak angka? Skenario semesta itu kadang memang lebih nggilani daripada film fiksi mana pun.
Semalam suntuk, magisnya takdir sepak bola itu tersaji langsung di pelataran Kantor DPW PKS Jateng. Layar tancap besar menyorotkan drama perpanjangan waktu yang bikin jantung serasa mau copot. Namun, tepat di tengah puncak adrenalin, saat kedua tim masih buntu pada paruh pertama extra time, kumandang azan Subuh dari Masjid At-Taqwa di seberang jalan terdengar lantang. Ratusan pasang mata yang tadinya tersihir bola mendadak kompak berdiri.
Kopi, kacang, dan camilan ditinggal begitu saja. Kami berduyun-duyun menyeberang jalan, merapatkan saf, dan menunaikan sujud. Seseru apa pun urusan bumi, panggilan langit tetaplah menjadi prioritas yang pantang ditawar. Begitu imam selesai mengucapkan salam, barulah kami lari sat-set, rebutan posisi di atas tikar lagi!
Energi Muda Spanyol Mendikte Skuad Gaek
Begitu peluit panjang ditiup, pembacaan atas hasil final Piala Dunia ini menyisakan satu kesimpulan telak: ini eranya darah muda! Spanyol berani turun gelanggang dengan line-up utama yang sangat segar. Mereka mengandalkan Lamine Yamal yang baru berusia 19 tahun, bek potensial Pau Cubarsí, 19 tahun, hingga sang jenderal lapangan tengah, Pedri, 23 tahun. Anak-anak ini ibarat mesin motor baru yang baru turun dari dealer. Tenaganya ora umum.
Bandingkan dengan skuad Argentina yang rata-rata pemainnya jauh lebih tua. Sang legenda, Lionel Messi, sudah menginjak 39 tahun, disusul bek gaek Nicolás Otamendi, 38 tahun, dan kiper Emiliano Martínez, 33 tahun.
Secara keterampilan dan mental, deretan pemain senior ini jelas masih berada di level dewa. Namun, ketika melawan bocah-bocah belasan tahun yang napasnya panjang dan seolah tak ada habisnya, fisik pancen tak bisa bohong. Di atas langit masih ada langit. Di setiap masa pasti ada orangnya.
Laporan statistik hasil final Piala Dunia subuh tadi menjadi bukti paling brutal. Spanyol benar-benar mendikte permainan dengan penguasaan bola mencapai 68 persen. Anak-anak muda asuhan Luis de la Fuente ini sukses melakukan 803 operan dengan akurasi mencapai 90 persen.
Sementara itu, skuad gaek Argentina hanya sanggup membalas dengan 445 operan, dengan akurasi 78 persen. Lha piye, bisa dibayangkan capeknya Messi dan kawan-kawan ketika harus berlari mengejar bola tiki-taka ala anak muda ini sampai babak perpanjangan waktu?
Lebih sadis lagi kalau melihat daya gedor mereka. Skuad La Furia Roja memberondong pertahanan lawan dengan 20 tembakan. Sebanyak 11 di antaranya tepat mengarah ke gawang. Sebaliknya, Argentina cuma dikasih jatah tiga tembakan dan, ajaibnya, tidak ada satu pun yang mengarah ke gawang! Pertandingan ini seolah cuma menjadi ajang bagi para pemuda Spanyol untuk berlatih membombardir kiper Emiliano Martínez sendirian.
Dalam merespons kelincahan itu, Argentina sampai frustrasi dan melakukan 24 pelanggaran yang berbuah lima kartu kuning dan satu kartu merah. Kondisi ini sangat kontras dengan Spanyol yang bermain rapi tanpa menerima kartu sama sekali. Ini hukum alam. Fisik yang mulai menua pada akhirnya akan goyah menghadapi determinasi dan energi muda yang meledak-ledak.
Regenerasi Adalah Kunci
Sejarah selalu berulang. Kita ingat Jerman sangat berjaya dan menjadi juara pada 2014. Namun, karena terlambat melakukan regenerasi, mereka menua dan hancur lebur setelah gugur pada fase grup Piala Dunia 2018 dan 2022. Sebaliknya, Prancis menjadi juara pada 2018 karena berani membawa Kylian Mbappé yang saat itu masih berusia 19 tahun, Benjamin Pavard, 22 tahun, dan Ousmane Dembélé yang baru berusia 21 tahun.
Dalam lembar Sirah Nabawiyah pun plek ketiplek. Rasulullah SAW pernah menunjuk pemuda belasan tahun, Usamah bin Zaid, menjadi panglima perang yang memimpin para sahabat senior sekelas Abu Bakar dan Umar.
Filosofi bola, angka 19, dan catatan akhir hasil final Piala Dunia ini sebenarnya sangat relate dengan urusan mengelola organisasi, partai, maupun negara. Kalau mau terus juara dan nyambung dengan peradaban, kita harus ikhlas dan berani memberikan panggung estafet kepada anak muda.
Masak iya kita rela kalau pemimpin republik ini nanti sudah berusia lanjut dan untuk berjalan saja harus dipapah? Wk, wk, wk. Menghormati pitutur senior merupakan akhlak wajib, tetapi regenerasi menjadi kunci kemenangan.
Keberanian mengambil langkah regenerasi memang membutuhkan kebesaran jiwa. Namun, kita harus mengeksekusi langkah tersebut agar bangsa ini bisa berlari sekencang Lamine Yamal di lapangan hijau.
Wis, sing penting niat apik, mlaku terus, bismillah! Dengan kombinasi energi anak muda dan kebijaksanaan para senior, insyaallah selalu ada keajaiban baru untuk negeri ini.ar bangsa ini bisa berlari sekencang Lamine Yamal di lapangan hijau.