Di antara sepuluh sahabat Nabi Muhammad SAW yang dijamin masuk surga (Al-Mubasyirun bil Jannah), ada satu nama yang mungkin jarang terdengar di telinga kita, yaitu Sa’id bin Zaid. Kisah beliau menyimpan pelajaran yang sangat mendalam, terutama bagi siapa saja yang sedang berjuang di jalan dakwah dan politik.
Ketika Perang Badar berkecamuk, Sa’id bin Zaid tidak ikut serta di medan pertempuran karena beliau sedang mengemban tugas krusial lain dari Rasulullah SAW, yakni tugas istitla’ atau mengintai kondisi musuh. Begitu tugas pengintaian selesai dan beliau kembali ke Madinah, Perang Badar telah usai dengan kemenangan di pihak kaum muslimin.
Meski tidak memegang pedang di Badar, Rasulullah SAW tetap menetapkan Sa’id sebagai Ahlul Badr dan memberikannya bagian dari ghanimah (harta rampasan perang). Namun, ada hal yang sangat menyentuh hati dari respons Sa’id. Alih-alih gembira karena mendapat bagian utuh meski datang terlambat, pertanyaan pertama yang meluncur dari lisan beliau adalah, “Wa ajri, ya Rasulullah?” yang berarti, “Bagaimana dengan pahala saya, wahai Rasulullah?”. Rasulullah pun menenangkannya dengan menegaskan bahwa ia tetap mendapatkan pahala.
Dari kisah ini, kita belajar bahwa prioritas utama generasi terbaik umat ini bukanlah pada keuntungan materi, jabatan, atau sekadar ‘nomor urut’ di dunia, melainkan kedudukan ganjaran dan pahala di mata Allah SWT.
Syarat Mutlak Kemenangan: Memprioritaskan Allah
Prinsip yang dipegang teguh oleh Sa’id bin Zaid ini sejalan dengan firman Allah dalam Surah As-Saff. Allah SWT menawarkan sebuah ‘perdagangan’ (tijarah) yang akan menyelamatkan manusia dari azab yang pedih. Syarat utama dari perdagangan ini adalah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya secara penuh, barulah kemudian berjihad (berjuang) di jalan Allah.
Urutan ini sangat penting; kita tidak bisa mengaku sedang berjihad atau berjuang di partai dakwah jika hubungan (muamalah) kita dengan Allah, termasuk interaksi kita dengan Al-Qur’an, ternyata masih jauh dari harapan. Jika iman dan jihad ini ditunaikan, Allah menjanjikan pengampunan dosa secara menyeluruh (yaghfir lakum zunubakum) dan tempat tinggal yang indah di surga (masakina thayyibatan fi jannati ‘adn), yang merupakan kemenangan paling agung (al-fauzul ‘azhim).
Lalu, bagaimana dengan kemenangan di dunia? Al-Qur’an menempatkan kemenangan duniawi—seperti keberhasilan politik atau posisi kekuasaan—sebagai sesuatu yang datang belakangan (wa ukhra tuhibbunaha nashrun minallahi wa fathun qarib). Segala pilar perjuangan, baik itu kaderisasi maupun pencitraan, sejatinya harus bermuara pada keridaan Allah terlebih dahulu, bukan sekadar memburu kemenangan duniawi atau posisi teratas.
Dalam sebuah catatan biografi tentang seorang tokoh penggerak dakwah, terdapat sebuah kutipan berharga dari seorang ulama besar mengenai syakhshiyyah (karakter) seorang kader sejati. Disebutkan bahwa seorang pejuang dakwah, “Hidup di dunia, dan memakan dari apa yang ada di dunia, tetapi dunia tidak hidup di dalam dirinya dan tidak memakan jati dirinya“. Ini adalah pengingat agar kita tidak larut dan kehilangan arah saat bergelut dalam urusan dunia.
Menjaga Cahaya di Tengah Kesibukan
Dalam dunia politik dan profesional yang penuh kesibukan—mulai dari mengurus bisnis hingga melayani masyarakat sebagai pejabat publik—waktu untuk bermuamalah dengan Allah sering kali terasa sempit. Namun, seorang masyaikh (ulama besar) pernah memberikan tamparan yang lembut namun telak terkait hal ini: “Jika setiap hari engkau masih menyediakan waktu untuk makan, semestinya engkau juga bisa menyediakan waktu untuk berinteraksi kepada Allah”.
Bagi kita yang merasa terlalu sibuk, ulama tersebut membagikan tiga tips ibadah minimalis namun esensial untuk menjaga kualitas ruhani kita:
Tilawah Al-Qur’an: Sediakan waktu khusus minimal setengah jam setiap hari untuk membaca Al-Qur’an. Manfaatkan juga al-auqat al-bainiyyah (waktu-waktu antara atau waktu tunggu), seperti saat berada di mobil atau di sela-sela perpindahan acara, untuk terus melantunkan ayat suci.
Zikir Pagi dan Petang: Jangan tinggalkan zikir. Sisihkan waktu setidaknya 10 menit di pagi hari dan 10 menit di sore hari. Membaca zikir yang ma’tsur (bersumber dari tuntunan agama) sangat dianjurkan, namun wirid apa pun sah-sah saja asalkan lisan dan hati kita senantiasa mengingat Allah.
Salat Malam (Qiyamul Lail): Jika tubuh terlalu lelah untuk bangun di sepertiga malam terakhir, usahakan minimal salat dua rakaat sebelum tidur. Ini tetap dihitung sebagai bagian dari menghidupkan malam.
Selain ketiga hal di atas, ada satu wasiat penutup yang sangat indah: jangan pernah melewati satu hari pun tanpa mendatangi masjid. Masjid adalah sumber cahaya, sebagaimana digambarkan dalam Surah An-Nur, bahwa cahaya Allah itu berada di rumah-rumah-Nya yang dimuliakan. Dengan melangkahkan kaki ke masjid, kita memohon agar hati, pendengaran, dan penglihatan kita senantiasa diterangi oleh cahaya dan petunjuk Allah SWT.
Semoga kita semua senantiasa dikuatkan untuk menata niat, meluruskan langkah, dan menjaga cahaya iman di tengah kerasnya perjuangan.
***
Catatan Redaksi:
Artikel ini disarikan dari ceramah Ustaz Rois Rahma Fathoni (Ketua DSW PKS Jawa Tengah) yang disampaikan pada acara Jaulah DPTW PKS Jawa Tengah ke DPD PKS se-Daerah Dakwah 1 (Kabupaten Kendal, Kota Semarang, Kabupaten Semarang, dan Kota Salatiga), pada 27 Juni 2026 bertempat di Merapi Ballroom, Hotel Grasia, Semarang.