“Dalam perspektif gerakan dakwah, tidak ada satu pun negara adidaya yang bisa memberikan sugesti kemenangan kecuali Islam.”
Kembara (Kemah Bela Negara) dan Latansa (Latihan Wanita Siaga) adalah medan silaturahmi dan sinergi yang sangat menggembirakan bagi aktivis dakwah.
Sebuah momen yang ditunggu-tunggu untuk merajut ukhuwah dan merakit makna cinta. Bukan sekadar teori, tetapi benar-benar dirasakan secara nyata dalam kebersamaan di jalan dakwah.
Umur pembinaan di jalan dakwah yang dilalui selama ini menghadirkan nilai yang dalam bagi setiap jiwa yang merindukan surga.
Ketika Kembara Cinta dan Latansa Jiwa bertemu dalam satu waktu dan tempat yang sama, kenangan cinta bersama di jalan dakwah terasa begitu menyala.
Berikut beberapa intisari dari taujih Presiden PKS Dr. Al Muzammil Yusuf, yang disarikan dari suasana peserta yang lelah secara fisik, namun matanya tetap menyala karena lillah dan mahabbah.
Istiqomah Kelas Jendral
Seorang yang ditempa dalam kehidupan, mengarungi pahit getirnya perputaran zaman, telah berusia lebih dari 50 tahun, dan masih istikamah di jalan dakwah, maka ia berada pada level jenderal.
Dalam dunia akademis, level itu seperti kelas doktoral. Artinya, ikhwah aktivis dakwah adalah orang-orang yang telah ditempa oleh pengalaman panjang, sehingga siap menganalisis dan memberikan solusi terhadap permasalahan umat.
Dalam dunia birokrasi, usia lanjut yang tetap istikamah mencerminkan kematangan kapasitas, integritas, wawasan luas, dan pengalaman praktis.
Dalam dunia bela diri, ia seperti sabuk hitam. Sebuah pengakuan atas eksistensi juang, bukan semata-mata karena kekuatan fisik, tetapi karena kekokohan integritas, kematangan mental spiritual, dan pemikiran yang komprehensif.
Nilai-nilai luhur yang didapatkan sejak awal kiprah bersama dakwah tidak boleh hanya dinikmati sendiri. Nilai itu harus dikuatkan kembali, diwariskan, dan dilanjutkan agar dakwah semakin kokoh dan meraih kemenangan yang nyata.
Tugas Kita Semuanya, Wahai Ikhwah
1. Mewariskan Nilai-Nilai Tarbiyah
تَوْرِيثُ قِيَمِ التَّرْبِيَةِ
Tawrītsu Qiyami at-Tarbiyah
Tawrītsu Qiyami at-Tarbiyah berarti pewarisan nilai-nilai tarbiyah.
Tidak sepatutnya seseorang diberi Al-Kitab, hukum, dan kenabian oleh Allah, kemudian dia berkata kepada manusia, “Jadilah kamu para penyembahku, bukan penyembah Allah,” tetapi hendaknya dia berkata, “Jadilah kamu para pengabdi Allah karena kamu selalu mengajarkan Kitab dan mempelajarinya!”
Q.S. Ali Imran: 79
Dakwah memadukan antara hamāsatusy-syabāb, yaitu semangat membara anak muda, dan hikmatusy-syuyūkh, yaitu kebijaksanaan para orang tua dan guru yang telah matang dalam pengalaman.
K.H. Hilmi Aminuddin mendidik generasi dakwah sejak awal dengan contoh nyata dan keteladanan agung.
Keteladanan beliau menjadi ruh yang tetap menyalakan semangat juang ikhwah fillah sehingga dakwah tetap kokoh.
Hal ini harus diwariskan: bagaimana pejuang dakwah bisa kokoh dengan hidup 24 jam bersama dakwah. Kesungguhan dalam perjuangan tidak selalu ditopang oleh sarana yang mudah dan nyaman. Kadang ia lahir dari keterbatasan, perjalanan jauh, kelelahan, dan pengorbanan yang panjang.
Inilah makna penting dalam jalan dakwah: keterbatasan bukan alasan untuk berhenti, dan kelelahan bukan alasan untuk mundur.
Penulis teringat makna tajarrud dari Ustaz Hilmi Aminuddin, bahwa tajarrud bukan berarti meninggalkan semuanya karena alasan dakwah, melainkan membawa semuanya untuk dakwah, termasuk keluarga.
Para pejuang dakwah harus menyiapkan dan mewariskan amal jariyah berupa lembaga pendidikan, pesantren, sekolah, kader-kader dakwah, pelayanan publik, dan sebanyak mungkin kemanfaatan bagi umat.
Semua itu menjadi wujud komitmen terhadap syumūliyatul Islām dan ikhtiar menghadirkan Islam sebagai rahmatan lil ‘ālamīn.
Tidak ada alasan untuk tidak berkomunikasi dengan komunitas apa pun dan di mana pun. Kader dakwah harus hadir dengan kapasitas, integritas, dan kemampuan membina umat secara kokoh.
2. Memperkuat Soliditas Tarbiyah
تَعْزِيزُ تَمَاسُكِ التَّرْبِيَةِ
Ta‘zīzu Tamāsuki at-Tarbiyah
Ta‘zīzu Tamāsuki at-Tarbiyah berarti mengokohkan soliditas tarbiyah.
Nilai-nilai dakwah seperti air yang suci lagi menyucikan, thahūrun wa muthahharun.
Untuk mengalirkan dakwah, diperlukan kanal-kanal dakwah yang sesuai dan tepat. Masing-masing harus berperan, bukan baperan. Siap menerima kritik, saran, dan masukan, serta siap mendengarkan suara hati masyarakat.
Pimpinan dalam mengambil keputusan harus memperhatikan aspirasi dan hasil musyawarah dari bawah.
Masukan yang dimusyawarahkan menjadi bagian dari pengokohan soliditas struktur dan kader, dari tingkat bawah hingga tingkat paling atas.
Kader dakwah harus berbaris rapi sebagaimana bangunan yang tersusun kokoh.
Q.S. Ash-Shaff: 4
Jika visi dan misi dakwah dipahami dengan benar, didukung informasi yang akurat, serta dilihat dengan perspektif yang shahīh dan wādhih, maka gerakan dakwah akan memiliki soliditas yang kokoh dan dahsyat.
3. Memperkuat Produktivitas Tarbiyah
تَعْزِيزُ إِنْتَاجِيَّةِ التَّرْبِيَةِ
Ta‘zīzu Intājiyyati at-Tarbiyah
Ta‘zīzu Intājiyyati at-Tarbiyah berarti memperkuat produktivitas tarbiyah.
Gerakan dakwah adalah gerakan penyelamat, harakatul inqādz. Ia dimulai dengan takwīnul ummah, yaitu pembinaan kader-kader dakwah dengan iman yang menghunjam, takwa yang menyala di dalam jiwa, dan kehidupan Islami sampai mati, sebagaimana pesan Ali Imran ayat 102.
Dakwah tidak hanya dimiliki oleh para aktivisnya. Masyarakat juga berhak merasakan keindahan, kemanfaatan, dan kegembiraan bersama dakwah.
Karena itu, dakwah harus terus berkiprah nyata di tengah masyarakat. Dakwah hadir dalam pembinaan, pelayanan, pendidikan, kepedulian sosial, pemberdayaan keluarga, dan kontribusi kebangsaan.
Perjalanan dakwah dimulai dari ishlāhul fardi, yaitu pembentukan kepribadian. Lalu berlanjut pada pembentukan keluarga yang menghadirkan nilai-nilai mulia, kiprah di masyarakat, perbaikan tata kelola kehidupan publik, hingga menjadi bagian dari sokoguru peradaban, ustādziyyatul ‘ālam.
Dalam praktik nyata, kader dakwah harus hadir dari rumah tangga, rumah Allah, rumah dakwah, rumah masyarakat, rumah kebangsaan, hingga rumah kemanusiaan.
Untuk membumikan nilai-nilai rahmatan lil ‘ālamīn, perjuangan dakwah perlu diperluas melalui kolaborasi, sinergi, dan aliansi yang tepat, baik secara ideologis, strategis, maupun taktis.
Semua ini menjadi jembatan nyata dalam mewujudkan nilai-nilai dakwah.
Kam minnā wa laisa fīnā.
Betapa banyak orang yang membawa nilai-nilai kita, meskipun mereka tidak berada bersama kita secara organisasi.
Dakwah merindukan tokoh-tokoh yang memiliki pandangan utuh, menyeluruh, komprehensif, simpatik, adil, syāmil, dan mutakāmil. Tokoh-tokoh yang mampu mengejawantahkan Islam sebagai taman yang indah bagi semua orang.
Istikamah Kelas Jenderal
Kembara dan Latansa menjadi ruang silaturahmi, sinergi, dan penguatan nilai dakwah: mewariskan tarbiyah, mengokohkan soliditas, dan meningkatkan produktivitas perjuangan.
“Dalam perspektif gerakan dakwah, tidak ada satu pun negara adidaya yang bisa memberikan sugesti kemenangan kecuali Islam.”
3 Tugas Besar Kader Dakwah
Nilai dakwah tidak cukup dikenang. Ia harus diwariskan, dikokohkan, dan diwujudkan dalam amal nyata bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan.
Mewariskan Nilai-Nilai Tarbiyah
Nilai dakwah harus diwariskan melalui keteladanan, pembinaan, amal jariyah, lembaga pendidikan, kaderisasi, dan pelayanan umat.
Memperkuat Soliditas Tarbiyah
Dakwah membutuhkan kekokohan barisan, kelapangan menerima masukan, musyawarah, dan kesatuan visi dari bawah hingga atas.
Memperkuat Produktivitas Tarbiyah
Dakwah harus produktif dalam membina pribadi, keluarga, masyarakat, kebangsaan, dan kemanusiaan sebagai wujud rahmatan lil ‘ālamīn.
Karakter Kader Dakwah
- Istikamah meski ditempa zaman dan usia.
- Menjadi jembatan kebaikan, bukan penghalang kebaikan.
- Tegas dalam prinsip, simpatik dalam penampilan.
- Membangun mental pemenang, bukan mental pecundang.
Menjadi Bridging, Bukan Blocking
Dakwah mendidik kadernya agar hadir sebagai jembatan kebaikan. Bukan membangun tembok yang menutup pintu manfaat, tetapi membuka jalan kolaborasi, pelayanan, dan kemenangan yang diridhai Allah.
Islam bukanlah agama yang mengerikan. Islam adalah oase yang menyegarkan di tengah kehausan spiritual yang panjang.
Kader dakwah adalah sosok yang mewujudkan tadayyun sya‘bī, yaitu pengamalan nilai-nilai Islam yang mulia di tengah masyarakat secara nyata: tegas dalam prinsip, simpatik dalam penampilan.
Dakwah mendidik kadernya menjadi jembatan kebaikan, bukan tembok raksasa yang menutup pintu-pintu kebaikan.
Kita harus menjadi bridging, bukan blocking.
Dakwah harus membangun mental pemenang, bukan mental pecundang.
“Dalam perspektif gerakan dakwah, tidak ada satu pun negara adidaya yang bisa memberikan sugesti kemenangan kecuali Islam.”
Panggilan hayya ‘alal-falāh, lima kali sehari, 24 jam di seluruh penjuru dunia, adalah panggilan kemenangan dan sugesti spiritual yang paling dahsyat.
Apabila azan kemenangan sudah bergema masuk ke dalam jiwa, maka kun fayakūn. Pada saatnya, atas izin Allah, semuanya akan terwujud nyata.
Intisari Taujih Presiden PKS Dr. Al Muzammil Yusuf pada Kembara Latansa Lanjut Jateng