Ringkasan Liputan
Ringkasan liputan belum tersedia.
Transkrip Singkat
Bagian pembuka film ini menyoroti fenomena fatherless, yaitu ketiadaan peran ayah secara emosional, yang dirasakan oleh Kanaya. Meskipun ayahnya, Abi, hadir secara fisik di rumah, Kanaya merasa bahwa sang ayah tidak pernah benar-benar ada untuknya. Abi selalu sibuk dengan urusannya sendiri dan kerap terburu-buru, bahkan menolak permintaan Kanaya untuk sekadar menandatangani berkas beasiswa S2-nya.
Situasi tersebut membuat Kanaya merasa kesepian dan kebingungan karena tidak tahu harus bertanya atau bercerita kepada siapa. Dalam berbagai momen penting, termasuk saat foto wisuda, Kanaya selalu terlihat hanya didampingi oleh Uminya. Hal ini semakin mempertegas kekosongan peran ayah yang ia rasakan dalam hidupnya.
Konflik memuncak ketika Kanaya pulang ke rumah setelah diantar oleh teman laki-lakinya dan mendapat teguran dari Abi karena berboncengan berduaan. Abi menasihati Kanaya agar mau bercerita kepadanya jika sedang memiliki masalah. Namun, nasihat tersebut justru memicu Kanaya untuk meluapkan seluruh emosi yang selama ini ia pendam.
Kanaya mengungkapkan kekecewaannya karena selama ini ia harus belajar menjadi kuat dan mengambil keputusan sendiri tanpa kehadiran ayahnya. Ia merasa Abi tidak pernah ada di berbagai momen penting dalam hidupnya, seperti saat wisuda SMA, ketika ia kebingungan memilih jurusan kuliah, hingga saat ia ingin membagikan kabar baik. Semua rasa kecewa itu membuat Kanaya merasa lelah, kesepian, dan tidak memiliki tempat untuk pulang.
Tepat setelah Kanaya meluapkan seluruh emosinya, Abi tiba-tiba jatuh pingsan dan tidak sadarkan diri. Di saat ayahnya terbaring tidak berdaya, Kanaya menemukan sebuah buku catatan atau jurnal milik Abi.
Jurnal tersebut berisi curahan hati Abi dari tahun ke tahun. Di dalamnya, terungkap bahwa selama ini Abi diam-diam selalu memperhatikan perjalanan hidup Kanaya. Ia menonton video saat Kanaya mengikuti lomba, mengingat berbagai momen penting dalam hidup putrinya, hingga menyadari hal-hal kecil seperti makanan kesukaan Kanaya.
Melalui catatan itu, Abi juga mengakui bahwa semakin Kanaya tumbuh dewasa, ia semakin bingung bagaimana cara mendekati putrinya. Perasaan sayang yang selama ini tidak mampu ia ungkapkan secara langsung ternyata tersimpan dalam setiap halaman jurnal tersebut.
Melalui catatan tersebut, Kanaya mengetahui bahwa Abi selama ini menyimpan rasa bersalah. Abi merasa terlalu sibuk mempersiapkan masa depan Kanaya hingga lupa untuk hadir dalam kehidupan putrinya saat ini.
Di samping Abi yang terbaring sakit, Kanaya menangis penuh penyesalan. Ia menyadari bahwa selama ini ia mengira ayahnya tidak peduli, padahal Abi sebenarnya sangat menyayanginya dengan cara yang tidak pernah ia pahami.
Kanaya pun meminta maaf karena selama ini terlalu sibuk marah tanpa berusaha mengerti perasaan ayahnya. Dengan suara bergetar, ia meminta Abi untuk segera bangun karena masih banyak hal yang ingin ia ceritakan dan masih banyak waktu yang ingin ia habiskan bersama sang ayah.
Bagian penutup menunjukkan bahwa sang ayah telah pulih dan hubungan keluarga mereka mulai membaik. Dengan latar di bandara, Umi menyampaikan pesan menyentuh kepada Kanaya yang akan berangkat kuliah ke Mesir. Ia mengingatkan Kanaya agar tidak memendam kesedihan seorang diri, karena Kanaya selalu memiliki rumah untuk pulang. Kehangatan hubungan ayah dan anak juga terlihat ketika sang ayah menawarkan diri untuk membawakan koper Kanaya yang berat. Adegan ini menandakan bahwa komunikasi dan kasih sayang di antara mereka akhirnya dapat tersampaikan dengan baik.



