GETASAN, KABUPATEN SEMARANG – Keberagaman Indonesia yang terdiri dari ribuan suku dan bahasa menjadi kekuatan besar yang harus dirawat bersama. Pesan tersebut disampaikan anggota DPR RI Muhammad Haris saat memberikan wawasan kebangsaan dalam Kemah Bela Negara (Kembara) Karesidenan Semarang di Bumi Perkemahan Kuncen Polobogo, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang, 21–23 Agustus 2026.
Kegiatan tersebut diikuti sekitar 130 peserta dari wilayah Karesidenan Semarang yang meliputi Kota Semarang, Kabupaten Kendal, Kabupaten Semarang, dan Kota Salatiga. Melalui kegiatan yang berlangsung di alam terbuka itu, peserta diajak memperkuat pemahaman kebangsaan, karakter, dan semangat pengabdian.
Menurut Haris, Indonesia merupakan negara kepulauan dengan luas wilayah sekitar 5,3 juta kilometer persegi yang membentang dari Sabang hingga Merauke. Indonesia juga memiliki lebih dari 1.300 suku bangsa dan sekitar 700 bahasa.
“Tidak ada satu pun negara di dunia seperti Indonesia. 1.300 suku bangsa itu menjadi satu negara kesatuan Republik Indonesia,” ujar Haris dalam paparannya.
Haris mengatakan, keberagaman tersebut menjadi modal penting bagi Indonesia untuk membangun peradaban. Menurut dia, persatuan bangsa merupakan sesuatu yang harus terus dijaga karena tidak semua negara dengan latar belakang masyarakat yang beragam mampu mempertahankan keutuhan negaranya.
Dalam paparannya, Haris membandingkan Indonesia dengan sejumlah negara lain yang memiliki kesamaan latar belakang budaya maupun bangsa, tetapi mengalami perpecahan menjadi beberapa negara. Menurut dia, kondisi Indonesia yang mampu menyatukan ribuan kelompok etnis dalam satu negara merupakan hal yang patut disyukuri.
Selain menjaga persatuan, Haris mengajak peserta memahami makna kemerdekaan sebagai tanggung jawab untuk memberikan kontribusi nyata. Menurut dia, perjuangan di masa kini tidak lagi dilakukan dengan cara yang sama seperti para pendahulu, melainkan melalui peran masing-masing dalam kehidupan masyarakat.
“Bentuk dari komitmen kita pada era kemerdekaan sekarang ini adalah mempertahankan dan mengisi kemerdekaan dengan cara mengaktualisasikan kemampuan kita dengan sebaik-baiknya,” katanya.
Ia mencontohkan, setiap orang memiliki ruang pengabdian sesuai bidangnya. Guru, kata Haris, harus menjadi pendidik yang baik. Orang tua harus menjalankan perannya dalam keluarga, sementara setiap individu perlu memberikan manfaat di lingkungan masing-masing.
Dalam kesempatan tersebut, Haris juga menyampaikan konsep lima pilar peradaban yang menurutnya penting untuk diperkuat. Pilar pertama adalah rumah tangga atau keluarga sebagai fondasi pembentukan karakter.
Menurut Haris, keluarga menjadi tempat awal membangun keteladanan, pendidikan, serta hubungan yang saling menguatkan antaranggota keluarga.
Pilar berikutnya adalah rumah ibadah, rumah politik, rumah kebangsaan, dan rumah kemanusiaan. Rumah ibadah, menurut Haris, tidak hanya menjadi tempat beribadah, tetapi juga ruang interaksi sosial masyarakat untuk menangkap aspirasi dan membangun kepedulian bersama.
Sementara itu, rumah kebangsaan menjadi ruang bagi masyarakat untuk mengambil peran aktif dalam menjaga negara.
“Kita harus menjadi tuan rumah di negeri kita. Jangan pernah kita mau diajak dalam pemikiran-pemikiran yang seolah-olah kita menjadi tamu di negeri kita sendiri,” ujar Haris.
Haris juga mengajak peserta memperkuat kepedulian terhadap persoalan kemanusiaan. Menurut dia, semangat kemerdekaan Indonesia perlu diwujudkan melalui kepedulian terhadap persoalan kemanusiaan di berbagai belahan dunia.
Ia menambahkan, kontribusi kepada masyarakat tidak selalu berkaitan dengan materi. Setiap orang memiliki kemampuan untuk berbuat baik sesuai kapasitasnya masing-masing.
“Memberikan kontribusi bukan hanya soal materi, ada banyak yang bisa kita lakukan di tengah masyarakat,” pesan Haris dalam arahannya.
Muhammad Haris merupakan anggota DPR RI periode 2024–2029 dari daerah pemilihan Jawa Tengah I. Ia juga dikenal sebagai kader Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Sebelumnya, Haris pernah menjabat sebagai Wakil Wali Kota Salatiga selama dua periode. Ia bergelar Dr. H. Muhammad Haris, S.S., M.Si., dengan latar belakang pendidikan ilmu sosial politik.
Kembara Karesidenan Semarang menjadi bagian dari rangkaian kegiatan pembinaan yang memadukan aktivitas alam terbuka, wawasan kebangsaan, penguatan karakter, dan kebersamaan peserta. Kegiatan tersebut diharapkan menjadi ruang bagi peserta untuk memperkuat pemahaman kebangsaan sekaligus meningkatkan kontribusi sosial di lingkungan masing-masing.