GETASAN, KABUPATEN SEMARANG — Kemah Bela Negara (Kembara) Karesidenan Semarang menjadi ruang refleksi keislaman dan kebangsaan bagi sekitar 130 peserta dari wilayah Kota Semarang, Kabupaten Kendal, Kabupaten Semarang, dan Kota Salatiga. Kegiatan yang berlangsung di Bumi Perkemahan Kuncen Polobogo, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang, pada 21–23 Agustus 2026 itu menghadirkan tausiyah reflektif dari KH. Zulfa Hakim, S.Hi. Al Hafidz.
Dalam refleksinya, KH. Zulfa mengangkat kisah Perang Tabuk sebagai pelajaran tentang keteguhan iman, kedisiplinan, pengorbanan, dan kesiapan menghadapi tantangan. Ia menjelaskan bahwa Perang Tabuk atau yang juga dikenal sebagai Yaumul Usrah merupakan salah satu perjalanan paling berat yang dialami Rasulullah dan para sahabat karena berlangsung dalam kondisi sulit, dengan jarak tempuh jauh serta cuaca yang ekstrem.
Menurut KH. Zulfa, ujian berat dalam perjalanan menuju Tabuk menjadi proses alami yang membedakan keteguhan orang-orang beriman dengan mereka yang memilih mundur. Ia mencontohkan bagaimana sebagian orang mencari alasan untuk tidak ikut serta, sementara para sahabat tetap berusaha berangkat meski menghadapi keterbatasan.
“Perjalanan berat itu bukan sekadar ujian fisik, tetapi juga ujian komitmen. Dari situ terlihat siapa yang benar-benar memiliki kesiapan untuk berjuang,” ujar KH. Zulfa dalam refleksinya.
Ia juga mengingatkan pentingnya semangat berkorban sebagaimana dicontohkan para sahabat Rasulullah. Dalam Perang Tabuk, sejumlah sahabat memberikan harta terbaik mereka untuk mendukung perjuangan, termasuk Utsman bin Affan yang menyumbangkan berbagai kebutuhan pasukan. Sementara Umar bin Khattab memberikan sebagian hartanya, dan Abu Bakar Ash-Shiddiq menyerahkan seluruh hartanya.
Selain aspek pengorbanan, KH. Zulfa menyoroti pentingnya organisasi dan kepemimpinan dalam sebuah gerakan. Menurut dia, Rasulullah memberikan contoh dengan membangun struktur pasukan yang rapi, menunjuk pemimpin, dan membagi tanggung jawab kepada para sahabat.
Refleksi tersebut, kata dia, relevan dengan kegiatan Kembara yang membutuhkan kedisiplinan, kerja sama, serta tanggung jawab antarpeserta. Setiap perjalanan dan kegiatan bersama harus memiliki kepemimpinan yang jelas agar tujuan dapat tercapai dengan baik.
KH. Zulfa juga mengajak peserta mengambil pelajaran dari kisah para sahabat yang tetap berusaha meski menghadapi keterbatasan. Ia mencontohkan kisah Abu Dzar Al-Ghifari yang tetap menyusul rombongan Rasulullah setelah tertinggal dalam perjalanan menuju Tabuk.
Di akhir refleksi, KH. Zulfa menekankan bahwa kegiatan kemah bukan hanya aktivitas fisik, tetapi sarana membangun karakter, memperkuat kebersamaan, dan mendekatkan diri kepada keteladanan Rasulullah serta para sahabatnya.