Pernah gagal menjual tahu bakso, mengantar susu kedelai sebelum matahari terbit, menjadi pengepul telur, hingga memasok ratusan bebek per hari. Pengalaman panjang itu membentuk cara Muhammad Nurkholis memandang persoalan UMKM.
UNGARAN, KABUPATENSEMARANG – Bau menyengat itu tidak mudah hilang. Meski tangan telah berkali-kali dicuci, aroma limbah kepala ikan yang digunakan sebagai bahan pakan bebek kembali tercium ketika keringat mulai keluar.
Muhammad Nurkholis masih mengingat jelas masa ketika rumah dan tempat usahanya dipenuhi lalat hijau. Saat itu, sekitar satu ton limbah kepala ikan telah didatangkan dari sebuah pabrik, tetapi mesin pengolah pakan belum siap digunakan. Limbah tersebut akhirnya menumpuk di bawah terpal dan baunya menyebar ke lingkungan sekitar.
“Baunya luar biasa. Tangan sudah dicuci, sempat hilang, tetapi ketika berkeringat baunya muncul lagi. Kalau mau jumatan sampai malu duduk di samping orang,” kenang Nurkholis.
Kisah jatuh bangun tersebut disampaikan Nurkholis saat menerima audiensi Paguyuban UMKM Pasar Kita Semua (Pakis) Kabupaten Semarang di ruang Fraksi PKS DPRD Kabupaten Semarang, Ungaran, Jumat (10/7/2026). Cerita itu mengemuka ketika para pelaku UMKM menyampaikan persoalan akses permodalan, sarana produksi, pelatihan, dan pemasaran.
Cerita itu mengemuka ketika para pelaku UMKM menyampaikan sejumlah persoalan yang mereka hadapi, mulai dari akses permodalan, sarana produksi, pelatihan, hingga pemasaran produk.
Di hadapan para pelaku usaha tersebut, Nurkholis tidak langsung berbicara tentang program atau kebijakan. Ketua Fraksi PKS DPRD Kabupaten Semarang itu justru membuka kembali perjalanan hidupnya sebelum menjadi anggota legislatif.
Ia pernah menjadi mekanik pabrik, berjualan susu kedelai, membuat tahu bakso, menjadi pengepul telur, memasok bebek, hingga mengolah limbah menjadi pakan ternak.
Tidak semua usahanya berhasil. Sebagian berhenti sebelum berkembang. Namun, rangkaian kegagalan itu menjadi sekolah panjang yang membentuk ketekunan, keberanian mengambil risiko, dan caranya memandang dunia usaha.

Menangani 160 Mesin
Nurkholis merupakan lulusan sekolah teknik dengan keahlian mekanik umum. Setelah menyelesaikan pendidikan, ia bekerja di bagian pemeliharaan sebuah pabrik.
Di tempat kerja itu, ia mengaku bertanggung jawab atas sekitar 160 mesin yang beroperasi selama 24 jam. Kerusakan dapat terjadi sewaktu-waktu. Ia terbiasa membongkar komponen, memasang peralatan, dan mengangkat beban lebih dari 50 kilogram.
Pekerjaan tersebut semula ditangani oleh dua orang. Namun, ketika bertugas, Nurkholis harus mengerjakannya seorang diri.
Setelah berhenti dari pabrik tersebut, ia bekerja di perusahaan lain selama sekitar tujuh tahun. Lingkungan pabrik mempertemukannya dengan banyak pekerja muda seusianya. Penghasilan tetap memberikan rasa aman, tetapi pada saat yang sama ia merasa ruang untuk memperbaiki taraf hidup sangat terbatas.
Upah yang diterimanya berada di kisaran upah minimum. Pendapatan datang pada tanggal yang sama dengan jumlah yang relatif tetap.
“Kalau terus bekerja di pabrik dan tidak mencari sambilan, hidup ya akan tetap di tingkat minimum,” tuturnya.
Pikiran itu mendorong Nurkholis mencari sumber penghasilan tambahan. Pilihannya jatuh pada perdagangan telur bebek.
Dua Ribu Telur Sehari
Nurkholis membeli telur langsung dari peternak, kemudian memasoknya kepada pedagang. Usaha tersebut mula-mula dijalankan sambil tetap bekerja sebagai karyawan pabrik.
Ketika pabrik tempatnya bekerja tutup, ia memutuskan menekuni perdagangan telur secara penuh.
Jaringan pemasaran perlahan terbentuk. Telur-telur itu dikirim ke sejumlah wilayah, termasuk Semarang, Ungaran, dan Temanggung.
Menurut penuturannya, pada masa ramai ia dapat memperdagangkan sekitar 2.000 butir telur dalam sehari. Usaha itu bertahan kurang lebih tujuh tahun.
Semakin banyak orang kemudian masuk ke perdagangan telur. Persaingan meningkat. Nurkholis kembali mencari peluang usaha lain.
Kesempatan datang melalui seorang teman sekolah yang mengelola rumah makan. Temannya membutuhkan pasokan bebek. Nurkholis menawarkan diri meskipun belum memiliki pengalaman menangani unggas tersebut.
Pada hari-hari pertama, menangkap dan membawa bebek menjadi pekerjaan yang menguras tenaga. Ia belum mengetahui cara memegang bebek dengan benar. Tubuhnya terasa pegal selama beberapa hari karena harus berjongkok, mengejar, dan mengangkat unggas dalam jumlah banyak.
Namun, usaha itu perlahan berkembang. Nurkholis membangun hubungan dengan peternak dan sejumlah pembeli. Selama hampir satu dekade, ia bertahan sebagai pedagang dan pemasok bebek.
Pada periode tertentu, jumlah bebek yang dipasok, menurut dia, mencapai rata-rata 100 hingga 150 ekor per hari.
Bereksperimen dengan Pakan Alternatif
Perdagangan bebek membawa Nurkholis pada persoalan lain, yakni tingginya biaya pakan.
Dalam usaha peternakan, pakan menjadi salah satu komponen biaya terbesar. Ketika harga pakan naik, keuntungan peternak ikut tertekan.
Nurkholis lalu mencoba memproduksi pakan alternatif dari bahan-bahan yang lebih murah, termasuk limbah kepala ikan dan sisa pengolahan telur. Bahan tersebut difermentasi sebelum digunakan sebagai pakan ternak.
Dari sisi ekonomi, usaha pakan dinilainya menjanjikan. Namun, proses produksinya tidak sederhana. Selain membutuhkan mesin, tempat, dan pengetahuan tentang komposisi nutrisi, pengolahan limbah menimbulkan persoalan bau.
Pengalaman satu ton kepala ikan yang belum sempat diolah menjadi salah satu peristiwa yang paling membekas dalam ingatannya. Lalat hijau memenuhi tempat penyimpanan. Bau busuk menempel pada pakaian dan tubuh.
Meski demikian, ia melihat pakan alternatif sebagai salah satu jalan agar peternak tidak sepenuhnya bergantung pada produk pabrikan.
Menurut Nurkholis, peternak dengan populasi ternak terbatas akan sulit memperoleh margin memadai apabila seluruh kebutuhan pakan harus dibeli dengan harga tinggi.
Tahu Bakso yang Tak Laku
Sebelum menemukan usaha yang mampu bertahan bertahun-tahun, Nurkholis berkali-kali mencoba produk lain.
Ia pernah mengikuti pelatihan pembuatan tahu bakso, kemudian mempraktikkannya di rumah. Produk itu dibawa ke pasar pagi dan dititipkan kepada seseorang untuk dijual.
Hasilnya mengecewakan. Tidak satu pun tahu bakso tersebut terjual.
Barang yang tersisa akhirnya digoreng dan ditawarkan secara eceran. Sebagian baru laku setelah ia menjualnya sendiri.
Kegagalan itu memberinya pelajaran bahwa kualitas produk tidak otomatis menghasilkan penjualan. Cara menawarkan barang, pemilihan pasar, dan orang yang menjualnya turut menentukan.
Ia juga pernah membuat getuk goreng, kerupuk, tempe, bakso, dan telur asin. Nurkholis bahkan pernah menanam sayuran untuk dijual ke pasar dan warung bakso.
Dalam usaha telur asin, produknya pernah habis terjual di sebuah warung. Namun, uang hasil penjualan tidak pernah diterimanya.
“Saya pernah mencoba semuanya. Tahu bakso pernah, getuk goreng pernah, susu kedelai, kerupuk, tempe, telur asin, sampai menanam sayur,” katanya.
Pengalaman-pengalaman itu membuatnya memahami bahwa kerugian pelaku usaha tidak selalu muncul karena produk tidak laku. Risiko juga dapat berasal dari mitra yang tidak membayar, biaya produksi yang meningkat, hingga pengelolaan usaha yang belum tertata.
Mengolah Kedelai sebelum Subuh
Di antara berbagai percobaan tersebut, susu kedelai menjadi salah satu usaha yang memberikan hasil cukup baik.
Nurkholis memproduksi susu kedelai sendiri dengan menjaga kualitas bahan dan rasa. Pelanggannya terdiri atas guru, dokter, dan sejumlah keluarga dengan kondisi ekonomi relatif mapan.
Setiap pagi, susu kedelai dikirim langsung ke rumah pelanggan. Pesanan digantungkan di tempat yang telah disepakati, sedangkan pembayaran diambil secara berkala.
Usaha itu menuntut disiplin tinggi. Produksi harus dimulai sebelum subuh agar susu dapat dibagikan pada pagi hari.
Ketika orang lain masih beristirahat atau menjalankan ibadah malam, Nurkholis telah berada di tempat produksi. Ia menggiling kedelai, memasak, menyaring, dan mengemas minuman.
Menurut perhitungannya saat itu, satu kilogram kedelai dapat menghasilkan sekitar 100 bungkus susu. Dengan pengelolaan bahan yang tepat, margin keuntungannya cukup tinggi.
Namun, seluruh proses masih dikerjakan sendiri. Rutinitas bangun dini hari dan beban produksi membuat usaha itu sulit dipertahankan dalam jangka panjang.
Belajar dari Pemasaran
Dari seluruh pengalaman tersebut, Nurkholis menilai bidang pemasaran memiliki risiko yang relatif lebih kecil dibandingkan produksi.
Dalam perdagangan telur dan bebek, ia membeli barang sesuai harga pasar, kemudian menjualnya kembali dengan margin tertentu. Ketika harga turun, harga pembelian juga ikut turun. Risiko kerugian dapat ditekan apabila jaringan pembeli telah terbentuk.
Namun, menurut dia, kekuatan utama perdagangan bukan semata-mata perhitungan harga, melainkan kepercayaan.
Hubungan dengan peternak dan pemilik rumah makan dapat bertahan karena transaksi dijalankan secara terbuka. Peternak percaya produknya akan dibayar, sedangkan pembeli percaya pasokan akan datang sesuai kebutuhan.
Kepercayaan itu pula yang memperluas jaringan sosialnya. Sejumlah peternak yang pernah menjadi mitra usaha tetap menjalin hubungan dengannya hingga ia memasuki dunia politik.
Pengalaman tersebut kemudian ia sampaikan kepada pengurus Paguyuban UMKM Pakis yang datang membawa sejumlah aspirasi.
Nurkholis menilai pelaku UMKM membutuhkan lebih dari sekadar modal. Mereka juga memerlukan kualitas produk yang terjaga, jaringan pemasaran, pengetahuan pengelolaan usaha, dan kepercayaan dari mitra.
Dalam audiensi itu, kisah Nurkholis bukan sekadar selingan sebelum pembahasan kebijakan. Pengalamannya menjadi cara untuk menunjukkan bahwa persoalan yang disampaikan para pelaku UMKM pernah ia alami sendiri dalam bentuk yang berbeda.
Ia pernah menghadapi produk yang tidak laku. Ia pernah bekerja sebelum subuh, mengejar bebek, kehilangan uang hasil penjualan, dan menahan malu karena tubuhnya berbau limbah ikan.
Baginya, usaha tidak selalu tumbuh dari satu gagasan besar. Usaha sering kali dibangun dari kegagalan kecil yang berulang, keberanian mencoba kembali, kemampuan membaca pasar, dan kesediaan menjaga kepercayaan ketika keuntungan belum pasti.
Kini, pengalaman tersebut dibawanya ke ruang legislatif. Saat mendengar keluhan tentang akses modal, sarana produksi, atau pemasaran, Nurkholis tidak sekadar melihat angka dan program.
Di balik setiap persoalan itu, ia melihat perjuangan orang-orang yang sedang berusaha bertahan—seperti dirinya pada masa lalu.