SALATIGA – Suasana Pelatihan Kepemimpinan Pengurus DPC PKS se-Kabupaten Semarang bertajuk “1 Visi, Banyak Aksi, Siap Kolaborasi” terasa cair saat Faris Fanani menyampaikan materi Leadership dan Communication Skill di Resto Oke Go, Salatiga, Minggu (10/5/2025).
Dengan gaya santai dan komunikatif, Faris mengajak para peserta memahami tahapan learning process atau proses belajar. Materi yang sebenarnya cukup serius itu menjadi ringan karena disampaikan dengan contoh-contoh dekat dari kehidupan sehari-hari.
“Dalam belajar, masalah terbesar kadang bukan karena kita tidak mampu. Masalahnya, kita tidak sadar bahwa kita belum mampu,” ujar Faris.
Ia menjelaskan, tahap paling awal dalam proses belajar adalah unconscious incompetence, yakni kondisi ketika seseorang belum mampu, tetapi belum menyadari kekurangannya. Menurutnya, tahap ini sering muncul dalam banyak ruang kehidupan, termasuk keluarga, organisasi, dan kepemimpinan.
Ruangan pun sempat bergemuruh tawa ketika Faris memberi contoh tentang komunikasi dalam rumah tangga.
“Dalam rumah tangga juga begitu. Ada yang belum bisa mendengar pasangan, tapi sudah merasa paling paham isi hati pasangan. Ini bukan komunikasi, ini tebak-tebakan berhadiah konflik,” katanya disambut tawa peserta.
Ia melanjutkan, konflik dalam rumah tangga sering kali bukan semata-mata karena hilangnya rasa sayang. Banyak konflik justru muncul karena pasangan belum memiliki keterampilan komunikasi, empati, pengendalian emosi, dan kemampuan bekerja sama.
“Kadang masalahnya bukan karena tidak cinta. Bisa jadi karena dua-duanya belum punya skill komunikasi, tapi dua-duanya merasa paling benar,” ucap Faris.
Menurutnya, rumah tangga yang sehat bukanlah rumah tangga yang tidak pernah bertengkar. Rumah tangga yang sehat adalah rumah tangga yang mau belajar dari konflik dan tidak mengulangi kesalahan yang sama.
“Rumah tangga sehat itu bukan yang tidak pernah bertengkar. Yang sehat adalah yang setelah bertengkar mau belajar. Jangan sampai konflik selesai, tapi ilmunya tidak nambah,” tuturnya.

Dari contoh rumah tangga tersebut, Faris mengajak peserta melihat proses belajar dalam konteks organisasi dan kepartaian. Dalam PKS, learning process tidak cukup dimaknai sebagai proses membentuk kader yang loyal. Lebih dari itu, proses belajar harus melahirkan kader yang matang, kompeten, dan mampu memberi manfaat nyata bagi masyarakat.
“Kader tidak cukup hanya loyal. Loyalitas harus ditopang kemampuan membaca masalah, menyusun solusi, berkomunikasi dengan masyarakat, dan menjaga integritas,” tegasnya.
Faris menambahkan, kader partai perlu terus bergerak dari sekadar merasa sudah memahami perjuangan menuju kemampuan yang benar-benar matang dalam bekerja. Menurutnya, keaktifan dalam kegiatan partai perlu diikuti dengan peningkatan kapasitas diri.
“Jangan sampai kita merasa sudah cukup berjuang hanya karena sering hadir di kegiatan. Hadir itu penting, tetapi setelah hadir harus ada pertumbuhan kapasitas,” katanya.
Ia mengingatkan bahwa kerja politik membutuhkan kemampuan yang luas. Kader perlu memahami kebutuhan masyarakat, regulasi pemerintahan, tata kelola anggaran, komunikasi publik, negosiasi, advokasi, hingga etika dalam menjalankan amanah.
Bila proses belajar tidak berjalan, organisasi berisiko terjebak pada rutinitas. Kegiatan tetap ramai, simbol tetap terlihat, tetapi kualitas pelayanan kepada masyarakat tidak ikut meningkat.
“Organisasi yang sehat bukan hanya banyak kegiatan. Organisasi yang sehat adalah yang terus belajar, terus memperbaiki diri, dan makin terasa manfaatnya bagi masyarakat,” ujar Faris.
Tahap ideal dari proses belajar, lanjutnya, adalah ketika nilai-nilai organisasi sudah menjadi kebiasaan kerja. Pada tahap ini, kader tidak hanya berbicara tentang pelayanan, tetapi otomatis melayani. Tidak hanya berbicara tentang amanah, tetapi terbiasa akuntabel. Tidak hanya mengkritik kebijakan, tetapi mampu menawarkan alternatif.
“Kalau nilai sudah menjadi kebiasaan, kader tidak perlu disuruh melayani. Ia otomatis hadir ketika masyarakat membutuhkan,” katanya.
Melalui materi tersebut, Faris mengajak kader PKS Kabupaten Semarang untuk terus mengembangkan kepemimpinan dan keterampilan komunikasi. Sebab, kepemimpinan bukan hanya tentang jabatan atau keberanian tampil di depan, tetapi juga tentang kemampuan mendengar, memahami orang lain, mengelola emosi, dan bekerja bersama.
Pelatihan ini menjadi bagian dari ikhtiar DPD PKS Kabupaten Semarang untuk memperkuat kapasitas kader agar tidak hanya solid secara organisasi, tetapi juga matang dalam berkomunikasi, siap berkolaborasi, dan mampu memberi kontribusi nyata bagi masyarakat.