Di jalur alternatif Plumbon, posko mudik ini hadir sebagai tempat singgah pertama bagi pemudik yang baru keluar dari tol, membawa semangat melayani di tengah perjalanan panjang menuju kampung halaman.
Menjelang berbuka, ruas jalan di Jl. Raya Salatiga-Suruh KM 8, Dusun Krajan, Desa Plumbon, Kecamatan Suruh, tak hanya dipenuhi kendaraan yang melintas. Di titik itu, tangan-tangan relawan bergerak membagikan paket takjil, menyapa pengendara yang melambat, lalu kembali melaju ke arah Karanggede, Sragen, hingga Ngawi. Ada semangat yang terasa sederhana, tetapi jelas: perjalanan panjang itu tidak perlu dijalani sendirian.
Di lokasi inilah DPD PKS Kabupaten Semarang resmi membuka Posko Mudik PKS 2026. Letaknya strategis. Posko berdiri di ruas jalan alternatif yang menghubungkan arus dari arah Semarang dan Solo menuju sejumlah tujuan di timur. Dari gerbang keluar Tol Tingkir Salatiga, jaraknya sekitar 2,5 kilometer ke arah timur. Bagi pemudik yang baru meninggalkan jalur bebas hambatan, titik ini menjadi semacam jeda pertama di penghujung aspal Salatiga.
Makna itu yang sejak awal ingin ditekankan panitia. Koordinator Posko Mudik PKS Kabupaten Semarang, Hamzahid, menyebut posko ini disiapkan agar pemudik bisa merasa aman setelah perjalanan panjang. “Kami ingin memastikan pemudik merasa aman setelah perjalanan panjang. Jadi, begitu keluar tol Salatiga, silakan belok ke kiri arah timur. Kami ada di sana untuk menemani istirahat Anda,” ujarnya.
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi menyimpan sesuatu yang dekat dengan pengalaman mudik itu sendiri. Perjalanan pulang ke rumah memang sering diisi harapan, juga lelah yang datang pelan-pelan. Debu jalanan, jarak tempuh, dan ritme perjalanan membuat tempat singgah menjadi lebih dari sekadar tenda. Ia bisa menjadi penanda bahwa ada ruang untuk berhenti sejenak, menarik napas, lalu melanjutkan perjalanan dengan rasa lebih ayem.
Peluncuran posko ini dihadiri langsung jajaran pimpinan PKS. Ketua DPW PKS Jawa Tengah Hadi Santoso datang bersama Anggota DPR RI Muhammad Haris dan Anggota DPRD Provinsi Jawa Tengah Ida Nurul Farida. Mereka hadir bersama Ketua DPD PKS Kabupaten Semarang Muhammad Nurkholis serta Sekretaris Ahmad Muntaha. Kehadiran para pimpinan itu menegaskan komitmen partai untuk hadir langsung di tengah masyarakat, bukan hanya lewat pernyataan, tetapi lewat titik layanan yang bisa disentuh dan dirasakan di jalur mudik.
Namun, yang paling menonjol dari peluncuran itu justru bukan seremoninya. Suasana yang muncul terasa kental dengan semangat berbagi. Menjelang waktu berbuka puasa, relawan PKS membagikan 400 paket takjil gratis kepada para pengendara yang melintas. Di tengah arus kendaraan dan waktu yang terus berjalan, paket-paket itu menjadi bentuk perhatian yang konkret, kecil, tetapi berarti bagi orang yang sedang di jalan.
Nurkholis menegaskan, keberadaan posko ini merupakan wujud nyata dari semangat melayani. Menurut dia, mudik bukan sekadar perpindahan dari satu kota ke kota lain. Di dalamnya ada perjuangan untuk bertemu keluarga tercinta, ada tenaga yang dikuras, ada harapan untuk sampai dengan selamat. “Mudik adalah perjalanan penuh perjuangan demi bertemu keluarga tercinta. Kami hadir di jalur alternatif Plumbon ini bukan sekadar mendirikan tenda, tapi ingin memberikan rasa tenang bagi para pemudik,” tutur Nurkholis.
Ia lalu melanjutkan dengan ajakan yang terasa hangat dan langsung mengarah pada kebutuhan paling dasar seorang musafir: beristirahat. “Silakan mampir, lepaskan lelah sejenak, karena keselamatan Anda adalah kebahagiaan bagi keluarga yang menunggu di rumah,” katanya. Di tengah budaya mudik yang nyaris selalu bergerak cepat, ajakan untuk berhenti sejenak seperti ini terasa penting. Ada pengingat halus bahwa tujuan akhir perjalanan bukan hanya sampai, melainkan sampai dengan selamat.
Nurkholis juga menambahkan bahwa posko itu terbuka untuk siapa saja tanpa memandang latar belakang. Penegasan ini memberi konteks yang lebih luas pada kehadiran posko di Plumbon. Bahwa di jalur alternatif yang mengantar orang pulang ke pelukan keluarga, yang diutamakan bukan asal-usul orang yang datang, melainkan kebutuhan mereka sebagai pemudik. “Relawan kami siap menyambut dengan senyum dan bantuan apa pun yang kami bisa berikan, agar perjalanan menuju Sragen, Ngawi, dan sekitarnya terasa lebih ringan,” ujarnya.
Dari titik kecil di tepi jalan itu, posko mudik menjadi lebih mudah dipahami maknanya. Ia bukan sekadar penanda organisasi, bukan pula hanya tempat singgah sementara. Ia hadir sebagai ruang jeda di antara kecepatan, keletihan, dan jarak tempuh yang panjang. Sebuah tempat yang mencoba membuat perjalanan pulang terasa sedikit lebih ringan, sedikit lebih guyub, dan sedikit lebih manusiawi.
Pada akhirnya, mudik memang selalu lebih dari urusan bergerak dari satu tempat ke tempat lain. Ada rumah yang dituju, ada keluarga yang menunggu, ada rasa lega yang ingin dicapai di ujung perjalanan. Di Plumbon, di penghujung aspal Salatiga itu, posko ini berdiri untuk menjaga satu hal yang paling mendasar: agar mereka yang pulang, bisa pulang dengan tenang.