Perjalanan menuju Tabuk merupakan salah satu episode penting dalam sirah Rasulullah SAW. Ia bukan sekadar kisah perjalanan pasukan yang menempuh jarak panjang. Tabuk adalah sekolah tentang keimanan, ketangguhan, pengorbanan, kedisiplinan, dan kepemimpinan.
Karena itulah Perang Tabuk sering disebut dengan istilah yaumul usrah, masa atau hari-hari penuh kesulitan. Perjalanan dilakukan dalam kondisi sangat panas, jarak yang jauh, serta keterbatasan air dan perbekalan. Dalam refleksi terhadap peristiwa itu, bahkan digambarkan bagaimana dahaga yang dialami para sahabat mencapai tingkat yang sangat berat.
Bagi kita hari ini, tentu kondisi tersebut tidak bisa dibandingkan secara sama persis dengan tantangan yang kita hadapi. Namun, justru dengan melihat standar perjuangan yang lebih tinggi, kita dapat mengukur kembali kualitas kesungguhan kita sendiri.
Ketika Kesulitan Menjadi Penyaring
Kesulitan memiliki cara tersendiri untuk memperlihatkan kualitas manusia.
Ketika keadaan nyaman, hampir semua orang dapat mengatakan dirinya siap berjuang. Semua dapat berbicara tentang komitmen, loyalitas, pengorbanan, dan kebersamaan. Tetapi ketika perjalanan menjadi jauh, cuaca tidak bersahabat, pekerjaan menumpuk, keluarga harus ditinggalkan sementara, dan kenyamanan harus dikurangi, kualitas komitmen mulai terlihat.
Tabuk memperlihatkan hal tersebut.
Dalam perjalanan itu ada orang-orang yang mencari alasan untuk tidak berangkat. Sebaliknya, ada pula mereka yang sebenarnya memiliki keterbatasan, tetapi justru bersedih karena tidak memperoleh kendaraan untuk ikut bersama Rasulullah SAW. Mereka ingin berangkat, tetapi benar-benar tidak memiliki kemampuan.
Di sinilah kita memperoleh pelajaran penting. Komitmen tidak cukup diukur dari apa yang seseorang katakan ketika keadaan mudah. Komitmen lebih nyata ketika seseorang tetap hadir saat perjalanan menuntut pengorbanan.
Dalam kehidupan organisasi, dakwah, maupun pembinaan umat, proses semacam ini tetap relevan. Tidak semua ujian harus dibuat-buat. Terkadang keadaan dengan sendirinya akan menjadi alat seleksi.
Kesungguhan akan terlihat dari kesediaan seseorang hadir, bertanggung jawab, menyelesaikan amanah, dan tetap berjalan ketika keadaan tidak sepenuhnya sesuai dengan keinginannya.
Kaderisasi Tidak Bisa Instan
Pelajaran lain dari perjalanan dakwah Rasulullah SAW adalah pentingnya proses kaderisasi.
Perkembangan kekuatan kaum Muslimin pada masa Nabi berlangsung secara bertahap. Dalam transkrip refleksi disebutkan bagaimana jumlah pasukan berkembang dari ratusan pada masa Perang Badar, menjadi ribuan pada Perang Khandaq, kemudian sekitar 10 ribu pada Fathu Makkah, 12 ribu dalam Perang Hunain, dan sekitar 30 ribu ketika perjalanan menuju Tabuk.
Angka bukan segala-galanya. Namun, pertumbuhan tersebut menunjukkan bahwa dakwah membutuhkan proses panjang untuk membentuk manusia.
Lebih penting lagi, banyaknya jumlah orang tidak otomatis menghasilkan kekuatan. Dalam refleksi tentang Perang Hunain, terdapat pelajaran bahwa besarnya jumlah bahkan dapat melahirkan rasa percaya diri yang berlebihan.
Ini relevan bagi organisasi mana pun.
Kita sering merasa berhasil ketika jumlah anggota bertambah, struktur semakin besar, kegiatan semakin banyak, dan berbagai forum semakin ramai. Padahal, ukuran sesungguhnya bukan sekadar berapa banyak manusia yang berkumpul.
Pertanyaannya adalah: berapa banyak yang siap memikul amanah?
Berapa banyak yang bisa dipercaya?
Berapa banyak yang tetap hadir ketika tidak ada fasilitas?
Berapa banyak yang mampu menjalankan tugas tanpa terus-menerus harus diingatkan?
Di sinilah kaderisasi memperoleh maknanya. Kaderisasi bukan sekadar menambah jumlah, tetapi membentuk kualitas manusia.
Pengorbanan Tidak Selalu Harus Sama
Tabuk juga mengajarkan bahwa perjuangan membutuhkan pengorbanan harta.
Kita mengenal kisah para sahabat yang memberikan kemampuan terbaik mereka. Dalam refleksi tersebut disebutkan Utsman bin Affan memberikan dukungan besar bagi persiapan pasukan. Umar bin Khattab membawa separuh hartanya, sedangkan Abu Bakar Ash-Shiddiq menyerahkan seluruh hartanya.
Namun, ada pelajaran yang tidak kalah penting.
Tidak semua orang memiliki kemampuan yang sama.
Ada yang dapat memberikan banyak, ada yang hanya sedikit. Bahkan dalam kisah Tabuk disebutkan bagaimana orang yang berinfak sedikit tetap mendapatkan ejekan.
Karena itu, semangat berkorban semestinya tidak berubah menjadi perlombaan untuk mempermalukan mereka yang kemampuannya terbatas.
Islam mengajarkan kesungguhan sesuai kemampuan.
Orang kaya diuji dengan hartanya. Orang berilmu diuji dengan ilmunya. Seorang pemimpin diuji dengan tanggung jawabnya. Sementara mereka yang mempunyai tenaga diuji melalui kesediaannya bekerja.
Yang penting bukan apakah semua orang memberikan jumlah yang sama, melainkan apakah setiap orang telah memberikan kemampuan terbaiknya.
Organisasi Membutuhkan Disiplin
Ada pula satu pelajaran yang sangat praktis dari perjalanan Rasulullah SAW menuju Tabuk: kerapian organisasi.
Pasukan tidak berjalan tanpa struktur. Ada panglima, ada penanggung jawab kelompok, ada pembagian tugas, dan ada orang-orang yang memastikan perjalanan berjalan dengan tertib. Refleksi tersebut menekankan perlunya setiap rombongan memiliki pemimpin dan penanggung jawab, sehingga seluruh urusan tidak begitu saja diserahkan kepada panitia.
Pelajaran ini tampak sederhana, tetapi sering menjadi persoalan dalam kehidupan organisasi.
Kita terkadang mempunyai semangat besar tetapi administrasi lemah.
Kita memiliki banyak orang, tetapi pembagian tugas tidak jelas.
Kita mempunyai kegiatan besar, tetapi tidak mengetahui siapa yang bertanggung jawab apabila terjadi masalah.
Padahal, semangat tanpa keteraturan dapat melahirkan kekacauan.
Kepemimpinan juga bukan sekadar berdiri di depan dan memberi instruksi. Seorang pemimpin harus mengetahui keadaan anggotanya: siapa yang tertinggal, siapa yang sakit, siapa yang membutuhkan pertolongan, dan apa yang harus dilakukan ketika muncul keadaan darurat.
Transkrip refleksi bahkan mengangkat pengalaman kegiatan sebelumnya ketika seorang peserta tertimpa pohon dan harus segera dibawa ke rumah sakit. Peristiwa seperti itu menunjukkan bahwa kegiatan lapangan selalu memiliki risiko dan pemimpin harus siap mengambil tanggung jawab.
Belajar dari Abu Dzar
Salah satu kisah paling menyentuh dalam perjalanan Tabuk adalah kisah Abu Dzar Al-Ghifari.
Dalam refleksi tersebut diceritakan bahwa Abu Dzar sempat tertinggal karena tunggangannya berjalan lambat. Ia berusaha membuat untanya berjalan, tetapi tidak berhasil. Akhirnya ia membawa perbekalannya sendiri dan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki di tengah padang pasir demi menyusul Rasulullah SAW dan para sahabat.
Abu Dzar memberi kita pelajaran yang sangat sederhana: jangan menjadikan keterbatasan sebagai alasan untuk berhenti.
Ada kalanya kendaraan kita lambat.
Dalam kehidupan sekarang, “kendaraan” itu bisa berarti kondisi ekonomi, pekerjaan, fasilitas, kesehatan organisasi, atau keterbatasan sumber daya.
Kita mungkin tidak mempunyai perangkat terbaik. Kita mungkin tidak memperoleh fasilitas sebagaimana orang lain. Tetapi selama tujuan masih jelas dan kemampuan masih ada, perjalanan harus dilanjutkan.
Orang yang memiliki kesungguhan akan mencari jalan.
Sementara orang yang sejak awal tidak bersungguh-sungguh akan mencari alasan.
Melawan Kenyamanan Diri
Kisah Abu Khaitamah memberikan pelajaran lain.
Ia sempat tidak berangkat bersama rombongan. Ketika berada di rumah, ia melihat kebunnya yang akan panen serta kenyamanan yang telah dipersiapkan keluarganya. Pada saat itulah muncul kesadaran: bagaimana mungkin dirinya menikmati kenyamanan sementara Rasulullah SAW dan para sahabat sedang menempuh perjalanan berat di bawah terik matahari?
Ia kemudian meminta perbekalan disiapkan dan berangkat menyusul.
Musuh perjuangan tidak selalu berupa ancaman besar.
Sering kali musuh terbesar justru adalah kenyamanan.
Ingin istirahat sedikit lebih lama.
Enggan berangkat karena tempatnya jauh.
Tidak ingin mengambil tugas karena merasa sibuk.
Menunggu orang lain bergerak terlebih dahulu.
Semua itu manusiawi. Namun, manusia juga diberikan kemampuan untuk melampaui rasa nyaman tersebut.
Kita tidak diperintahkan meninggalkan keluarga atau mengabaikan tanggung jawab rumah tangga. Justru keluarga merupakan amanah. Tetapi kasih sayang kepada keluarga seharusnya melahirkan tanggung jawab, bukan menjadi alasan untuk meninggalkan seluruh amanah sosial.
Standar yang Lebih Tinggi
Membaca sirah tidak semestinya berhenti sebagai nostalgia terhadap kebesaran masa lalu.
Sirah harus menjadi cermin.
Kita tidak sedang berada di padang pasir Tabuk. Kita tidak menempuh perjalanan selama berbulan-bulan. Air minum tersedia. Kendaraan tersedia. Komunikasi sangat mudah.
Karena itu, refleksinya bukanlah merasa bahwa kita telah melakukan perjuangan yang sama seperti para sahabat.
Justru sebaliknya.
Dengan melihat betapa berat perjuangan generasi Rasulullah SAW, kita seharusnya merasa bahwa masih banyak ruang untuk memperbaiki kualitas diri.
Ketika sedikit lelah kita ingin berhenti, ingatlah mereka yang berjalan jauh di tengah panas.
Ketika sedikit kesulitan membuat kita ingin meninggalkan amanah, ingatlah mereka yang menangis karena tidak mempunyai kendaraan untuk berangkat.
Ketika kita terlalu menghitung apa yang telah diberikan, ingatlah para sahabat yang berlomba memberikan harta terbaiknya.
Ketika sebuah organisasi berjalan tanpa disiplin, ingatlah bagaimana Rasulullah SAW menata pasukan dengan kepemimpinan dan pembagian tanggung jawab yang jelas.
Pada akhirnya, tujuan mempelajari perjalanan tersebut bukan untuk mengagungkan kesulitan. Islam tidak mengajarkan manusia mencari penderitaan.
Yang ingin dibangun adalah manusia yang tidak mudah menyerah ketika kesulitan datang.
Sebab, sebagaimana disampaikan pada penghujung refleksi, kita membutuhkan standar yang lebih tinggi agar terus berusaha mendekatinya. Dan yang paling penting adalah kemampuan mengikuti keteladanan Rasulullah SAW serta para sahabat dalam menjalankan amanah kehidupan.
***
Artikel ini diolah dari refleksi KH. Zulfa Hakim, S.Hi., Al Hafidz yang disampaikan dalam kegiatan Kemah Bela Negara (Kembara) Karesidenan Semarang di Bumi Perkemahan Kuncen Polobogo, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang, 21–23 Agustus 2026.