Kegiatan Kader

Muh Haris: Pancasila Harus Hidup dari Keluarga hingga Ruang Kemanusiaan

26 Juli 2026 • Waktu Baca 5 Menit
Muh Haris: Pancasila Harus Hidup dari Keluarga hingga Ruang Kemanusiaan
Anggota Komisi IX DPR RI dari Fraksi PKS, Dr. H. Muh. Haris, S.S., M.Si., menyampaikan materi dalam Sarasehan Penanaman Nilai-Nilai Pancasila di Pondok Makan Bukit Alam, Bandungan, Kabupaten Semarang, Minggu (26/7/2026). Foto: Dok. Humas

BANDUNGAN, KABUPATEN SEMARANG — Menjaga keharmonisan keluarga, aktif membangun kepedulian melalui rumah ibadah, menjalankan politik dengan orientasi pelayanan, merawat keragaman, serta membela nilai kemanusiaan merupakan cara konkret untuk menghidupkan Pancasila dalam keseharian.

Pesan itu disampaikan anggota Komisi IX DPR RI dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Dr. H. Muh Haris, S.S., M.Si., dalam Sarasehan Penanaman Nilai-Nilai Pancasila di Pondok Makan Bukit Alam, Bandungan, Kabupaten Semarang, Minggu (26/7/2026). Muh Haris merupakan legislator dari Daerah Pemilihan Jawa Tengah I.

Kegiatan yang diselenggarakan DPD PKS Kabupaten Semarang tersebut diikuti sekitar 80 peserta dari unsur pengurus Dewan Pengurus Cabang (DPC) dan Dewan Pengurus Ranting (DPRa) di Daerah Pemilihan 5 Kabupaten Semarang. Peserta berasal dari Kecamatan Bandungan, Ambarawa, Jambu, dan Sumowono.

Hadir dalam kegiatan itu Sekretaris DPD PKS Kabupaten Semarang Ahmad Muntaha, A.Md., yang mewakili Ketua DPD PKS Kabupaten Semarang, serta jajaran pengurus tingkat daerah, cabang, dan ranting di wilayah Dapil 5.

Lima Ruang Pengamalan Pancasila

Dalam pemaparannya, Muh Haris memperkenalkan lima “rumah perjuangan” yang dapat menjadi ruang untuk menanamkan nilai agama, kebangsaan, dan kemanusiaan. Kelima ruang itu adalah keluarga, rumah ibadah, politik, kebangsaan, dan kemanusiaan.

Menurut Haris, keluarga menjadi tempat pertama bagi seseorang untuk belajar tentang cinta, kesabaran, tanggung jawab, dan kepedulian. Pendidikan nilai tidak hanya diberikan melalui nasihat, tetapi juga melalui keteladanan orang tua dalam memperlakukan pasangan dan mendidik anak.

Ia mengingatkan bahwa kesibukan di luar rumah tidak boleh membuat seseorang mengabaikan keluarga. Sebab, keluarga merupakan lingkungan dasar yang menentukan pembentukan karakter generasi berikutnya.

“Rumah keluarga adalah rumah dasar kita, tempat kita mencurahkan perhatian,” kata Haris.

Ia menilai keharmonisan keluarga memiliki hubungan erat dengan kehidupan sosial yang sehat. Anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan penuh kasih sayang, tanggung jawab, dan keteladanan diharapkan mampu membawa nilai tersebut ketika berinteraksi di tengah masyarakat.

Rumah Ibadah dan Penghormatan terhadap Perbedaan

Rumah ibadah menjadi ruang kedua yang disoroti Muh Haris. Menurut dia, rumah ibadah tidak hanya menjadi tempat menjalankan ritual keagamaan, tetapi juga tempat membangun kepercayaan, persaudaraan, dan kepedulian terhadap sesama.

Ia mencontohkan, keaktifan warga di rumah ibadah dapat memperkuat hubungan sosial. Ketika seseorang yang biasanya hadir kemudian tidak terlihat, warga lain dapat mengetahui kondisinya dan memberikan perhatian apabila orang tersebut sedang sakit atau menghadapi kesulitan.

Dalam kesempatan itu, Haris juga menekankan penghormatan terhadap kebebasan setiap warga untuk beribadah sesuai agama dan kepercayaannya. Menurut dia, perbedaan tidak semestinya menghalangi masyarakat untuk bekerja sama dalam menjaga kehidupan yang rukun.

Masyarakat Muslim dapat memakmurkan masjid, sementara warga dari agama lain menjalankan ibadah di tempat ibadah masing-masing. Sikap saling menghormati tersebut merupakan bagian dari semangat Bhinneka Tunggal Ika.

“PKS menghargai keragaman dan menghargai perbedaan,” ujarnya.

Politik Tidak Boleh Bergantung pada Figur

Rumah ketiga adalah politik. Muh Haris mengatakan politik semestinya menjadi sarana memperjuangkan kepentingan masyarakat dan menghadirkan pelayanan, bukan sekadar arena perebutan jabatan.

Ia mendorong para pengurus partai membangun kerja politik secara kolektif. Organisasi yang sehat, menurut dia, tidak boleh hanya bergantung kepada satu figur, tetapi harus ditopang oleh sistem, struktur yang solid, dan pembagian tugas yang berjalan.

Kerja bersama juga membutuhkan kedisiplinan, kesiapan menghadiri kegiatan, serta kesediaan menjalankan tanggung jawab di tengah masyarakat. Dengan demikian, aktivitas politik tidak berhenti pada masa pemilihan umum, tetapi hadir secara berkelanjutan melalui pelayanan dan pendampingan warga.

Haris menyebut kader yang berkomitmen, struktur yang solid, dan gerakan bersama sebagai unsur penting dalam menjaga keberlangsungan organisasi.

Ia juga mengingatkan bahwa pertumbuhan organisasi harus dibarengi pembinaan. Penambahan anggota tidak cukup dilakukan secara administratif, tetapi perlu diikuti dengan pendampingan agar setiap orang memahami tanggung jawab sosial dan kebangsaannya.

Pancasila sebagai Kesepakatan Bersama

Rumah keempat adalah kebangsaan. Dalam bagian ini, Muh Haris menyoroti keberagaman Indonesia yang terdiri atas berbagai suku, bahasa, agama, budaya, dan wilayah kepulauan.

Keragaman tersebut, menurut dia, merupakan kekayaan sekaligus tanggung jawab besar. Persatuan tidak akan terpelihara dengan sendirinya, tetapi harus terus dirawat melalui sikap saling menghormati dan kesediaan menempatkan kepentingan bangsa di atas kepentingan kelompok.

“Rumah kebangsaan kita harus kita rawat dan harus kita jaga,” kata Haris.

Ia menyebut Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai konsensus yang menjaga kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Empat itu merupakan konsensus dan komitmen bersama kita,” ujarnya.

Menurut Haris, masyarakat dapat memiliki latar belakang, pilihan politik, dan cara pandang yang berbeda. Namun, perbedaan tersebut harus tetap berada dalam koridor konstitusi dan kesepakatan kebangsaan.

Dalam kehidupan sehari-hari, semangat tersebut dapat diterapkan dengan tidak memaksakan kehendak, menyelesaikan perbedaan melalui musyawarah, serta menolak tindakan yang memecah belah masyarakat.

Solidaritas Kemanusiaan Melampaui Batas Negara

Rumah kelima adalah kemanusiaan. Muh Haris mengatakan nilai kemanusiaan menuntut masyarakat Indonesia tidak hanya peduli terhadap persoalan di lingkungan terdekat, tetapi juga terhadap penderitaan manusia di berbagai belahan dunia.

Ia mengaitkan hal tersebut dengan tujuan Indonesia untuk ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.

Dalam konteks itu, Haris kembali menyampaikan dukungan terhadap perjuangan kemerdekaan Palestina. Menurut dia, kepedulian kepada rakyat Palestina merupakan bagian dari sikap menolak penjajahan dan membela nilai kemanusiaan.

Ia mengajak peserta terus memberikan dukungan melalui doa, bantuan kemanusiaan, serta berbagai langkah damai yang memungkinkan.

Topik Terkait: Kegiatan Kader
Kontributor: Sugiharto Editor: Imam Bukhari
[isi_form_komunitas_kreatif]
Layanan Aspirasi Fraksi PKS

Formulir Layanan Aspirasi DPRD

Sampaikan usulan, aduan, atau kebutuhan warga secara lebih rapi, terstruktur, dan mudah diproses oleh admin.

Langkah 1 dari 5 20%

Data Pengusul

Isi identitas pengusul atau perwakilan yang menyampaikan aspirasi.

Gunakan nama lengkap asli.
Pastikan nomor aktif.
Opsional.
Pilih posisi Anda.

Detail Aspirasi

Jelaskan inti usulan, masalah, atau kebutuhan secara spesifik.

Tindak Lanjut

Tentukan prioritas dan jenis tindak lanjut.

Lampiran & Persetujuan

Review Data

Pastikan semua data sudah benar sebelum mengirim.